earth

Guestbook

/* Iklan google ads */

Kurban: Antara Ketakwaan dan Rasa Kemanusiaan

Ibadah Kurban adalah ibadah yang sudah sejak lama ada dan merupakan simbol pengorbanan tertinggi manusia terhadap Tuhannya. Hal ini terlihat dari kisah yang mendasarinya dimana pada saat itu Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk mengorbankan anaknya sendiri, Nabi Ismail as, untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Terlepas dari perbedaan pendapat antara Islam dan Kristen mengenai siapa yang dikurbankan (mengenai hal ini silahkan baca artikel "Ismail atau Ishak yang dikurbankan: Versi Islam dan Kristen"), namun sebagai muslim kita harus meyakini bahwa Nabi Ismail as lah yang dikurbankan itu, bukan Nabi Ishak as.

Kurban, yang secara harfiah berarti hewan sembelihan, bukanlah semata-mata bentuk ritual mempersembahkan "sesuatu" kepada Tuhan melalui jalan penyembelihan hewan, tetapi lebih dari itu memiliki makna yang luas bagi tujuan-tujuan kemanusiaan. Simbolisasi pengorbanan Nabi Ismail as yang akan dijadikan "korban sesembahan" oleh ayahnya, Nabi Ibrahim as (QS, 37:102), menunjukkan bahwa dalam penghambaan kepada Tuhan diperlukan sebuah pengorbanan besar, serius dan tidak kepalang tanggung, bahkan kalau perlu mengorbankan orang-orang yang paling disayangi dan nyawa sendiri. Berat memang. Tapi itulah konsekuensi logis dari sebuah penghambaan kepada Tuhan: diperlukan totalitas tak terbatas.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (totalitas), dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu merupakan musuh yang nyata bagimu." (QS, 2:208)
Pengorbanan besar, serius dan tidak kepalang tanggung tersebut bukanlah pengorbanan sia-sia yang bisa merugikan orang banyak, tapi pengorbanan yang dilandasi ketakwaan sehingga memberi manfaat bagi kemanusiaan. Karena dalam Islam, semua penghambaan (ibadah) tidak saja menyangkut pada hubungan vertikal manusia dengan Tuhan (aspek ritual), tetapi terkait pula pada hubungan horizontal manusia dengan manusia (aspek sosial).

Seperti dalam shalat misalnya, ritual yang dilakukan menjadi kurang (tidak) bernilai jika tidak dibarengi dengan zakat (laa shalata liman laa zakata). Bahkan dalam shalat hubungan vertikal dan horizontal tersebut sangat jelas terlihat dari gerakan shalat itu sendiri, yang diawali dengan takbiratul ihram (pengagungan Tuhan) dan diakhiri dengan pengucapan salam (pemberian keselamatan kepada sekeliling). Begitupun dengan ibadah puasa. Puasa menjadi kurang bermakna jika tidak menumbuhkan rasa solidaritas dan kasih sayang terhadap sesama yang mengalami kesusahan, karena selama sebulan penuh kita dididik untuk merasakan penderitaan mereka. Karena itulah, sebagai salah satu perwujudan rasa solidaritas dan kasih sayang itu, maka pada akhir puasa kita diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah.

Dalam ibahadah kurban pun demikian. Secara syariat, ibadah kurban harus dilakukan dengan cara menyembelih binatang ternak (QS, 22:34). Kemudian daging sesembelihan (kurban) ini dimakan sebagian oleh keluarga yang berkurban, dibagikan kepada fakir miskin yang membutuhkan, dan sisanya diberikan kepada yang meminta-minta (QS, 22:36). Dengan demikian ibadah kurban tidak saja melulu ritual pengorbanan manusia kepada Tuhan, tetapi juga mencakup aspek sosial yang berhubungan dengan pemberian manfaat bagi kemanusiaan. Karena itu ibadah kurban menjadi tidak bermakna jika hanya sekedar pemotongan hewan tanpa dibarengi dengan kemauan untuk berbagi dengan sesama yang memiliki nasib kurang beruntung (sengsara, miskin dan fakir). Ibadah kurban hanya akan memiliki nilai jika memenuhi aspek ritual dan aspek sosial, seperti pada ibadah-ibadah lain di dalam ajaran Islam.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
"Sekali-kali tidaklah dapat mencapai (keridhaan) Allah daging-daging unta dan darahnya itu, akan tetapi yang dapat mencapainya hanyalah ketakwaan kamu sekalian." (QS, 22:37)
Ketakwaan menjadi titik sentral dari sebuah pengorbanan (dan menjadi tujuan dari semua ibadah) kepada Tuhan karena:
  • mengindikasikan keimanan, ketaatan dan semangat berbagi dengan sesama (QS, 2:3)
  • menciptakan rasa toleran dan takut melakukan kesalahan karena kelak akan dipertanggunjawabkan di akhirat (QS, 2:4)
  • melahirkan sikap adil ketika menegakkan kebenaran dan menilai suatu persoalan (QS, 5:8)
  • menumbuhkan semangat kebersamaan tanpa memandang SARA demi terciptanya dunia yang lebih baik (QS, 49:13)

Jika nilai-nilai dari ketakwaan tersebut terwujud maka akan berimbas pada kemanusiaan secara keseluruhan. Dan pada akhirnya nanti, tujuan dari diutusNya para Rasul ke muka bumi ini, sebagai pembawa risalah kasih (rahmat) dan damai (salam), dapat tercapai.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
"Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS, 21:107)
Wallahu a'lam....
  • Artikel Terkait Dengan Agama

    Terimakasih sudah membaca artikel SC Community's Blog

    Sekedar catatan:
    Kotak pada kolom blok komentar ini masih kosong. Maka merupakan suatu kehormatan jika sobat menjadi orang yang paling pertama menuliskan komentar, baik berupa pujian, masukan, kritikan, maupun pertanyaan di kolom komentar yang terletak di bawah kotak ini.

    Tak ada yang bisa saya berikan selain ucapan terima kasih karena telah memberikan apresiasi terhadap artikel-artikel SC Community's Blog
    Kang eNeS

    Tambahkan Komentar

    • Dimohon untuk tidak mencantumkan link aktif pada komentar sobat.
    • Gunakan Ruang Tanya pada TabView Menu, jika ingin menanyakan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan artikel di atas.
    Kang eNeS

    Terimakasih atas semua apresiasi yang sobat berikan.

    10 Artikel Terbaru

    10 Artikel Terpopuler