earth

Guestbook

/* Iklan google ads */

Karena Membenci Syiah, Ahlul Bait Pun Terkena Fitnah

Mungkin sobat akan istigfar berulang-ulang jika membaca tulisan seorang ustadz dalam sebuah blog dengan judul: "Ahlul-Bait Termasuk yang Terusir dari Haudl" (silahkan searching sendiri, saya tidak tega mencantumkan link-nya). Entah terbuat dari apa hati ustadz itu sehingga tega menghina keluarga Nabi Saww seperti itu? Apa lantaran kebenciannya terhadap Syiah sudah mencapai ubun-ubun sehingga Ahlul Bait pun layak untuk difitnah sebagai orang-orang yang akan diusir dari telaga Al-Haudl? Na'udzubillah dari pikiran picik seperti itu. Dan semoga saja Allah memberikan petunjuk kepadanya. Amin...

Sebagai Sunni yang mencintai Ahlul Bait tentu saja saya merasa perlu untuk membantah fitnah keji itu. Dan bantahan ini pernah saya tulis pada catatan kaki dalam tulisan "Jangan Su'udhan, Pembela Syiah Belum Tentu Syiah". Namun karena dibahas tidak begitu detail maka perlu dibuat tulisan tersendiri untuk membantah fitnah keji tersebut.
Ahlul Bait Terusir dari Al-Haudl?
Argumen sang ustadz, yang dijadikan dasar kesimpulannya bahwa Ahlul-Bait termasuk yang terusir dari Al-Haudl, adalah hadits Bukhari No. 6097 berikut:
Nabi Saww bersabda: "Akulah yang pertama-tama mendatangi telaga (Al-Haudl). Barangsiapa yang menuju kepadaku akan minum, dan barangsiapa yang meminumnya maka tidak akan haus selama-lamanya. Sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku dan aku mengenalnya dan mereka juga mengenaliku, kemudian antara aku dan mereka dihalangi." Kata Abu Haazim, Nu'maan bin Abi 'Ayyaasy mendengarku, maka ia berkomentar, 'Beginikah kamu mendengar dari Sahl?'. 'Iya', jawabku. Lalu ia berujar, 'Aku bersaksi atas Abu Sa'id Al-Khudriy, sungguh aku mendengarnya dan ia menambahkan redaksi', "Lalu aku (Nabi Saww) berkata: 'Mereka adalah golonganku (innahum minni)'. Namun dijawab, 'Sungguh engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!' Maka aku berkata: 'Menjauh, menjauh, bagi orang yang mengubah (agama) sepeninggalku."
Kalimat "innahum minni" dalam hadits tersebut dia artikan dengan: "mereka adalah bagian dariku". Dan yang termasuk "minni" (bagian dariku), menurut si ustadz, adalah: Ali, Fatimah, dan Husain, dengan merujuk pada hadits-hadits yang sengaja dia penggal seenaknya, sebagai berikut:
Dan beliau (Nabi Saww) mengatakan kepada 'Ali: "Engkau bagian dariku (anta minni)..." (HR. Bukhari No. 3920)
Beliau (Nabi Saww) bersabda: "Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku (Fatimah minni)..." (HR. Bukhari No. 2879)
Rasulullah Saww bersabda: "Husain bagian dariku (Husain minni)..." (HR. Tirmidzi No. 3708)
Sungguh betapa piciknya ustadz ini (padahal ia kelihatannya cukup punya nama dan kompeten). Hanya dengan mengandalkan hadits-hadits yang dia penggal seenaknya, dia berani memfitnah Ahlul Bait yang disucikan Allah dan mengkerdilkan kedudukan Ali, yang oleh Nabi Saww disebut "seorang lelaki yang tidak akan Allah hinakan selamanya",[1] tetapi mengagungkan Mu'awiyah yang telah membunuh Hasan, cucu Nabi Saww. Bahkan dia berusaha mengelabui pembaca dengan argumen-argumennya sehingga pembaca awam bisa tergiring dan akhirnya meyakini bahwa Ahlul Bait-lah yang nanti akan terusir dari Al-Haudl. Na'udzubillahi min dzalik...
Ahlul Bait Dicintai dan Disucikan Allah
Sebelum membuat bantahan saya akan melanjutkan hadits-hadits yang dia potong begitu saja, sebagai berikut:
Dan beliau (Nabi Saww) mengatakan kepada 'Ali: "Engkau bagian dariku (anta minni), dan aku bagian darimu." (HR. Bukhari No. 3920)
Beliau (Nabi Saww) bersabda: "Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku (Fatimah minni), dan aku khawatir dia terfitnah dalam agamanya." (HR. Bukhari No. 2879)
Rasulullah Saww bersabda: "Husain bagian dariku (Husain minni) dan aku merupakan bagian dari Husain. Allah akan mencintai orang yang mencintai Husain. Dan Husain termasuk sibt (keturunan yang akan menurunkan banyak umat) dari beberapa umat." (HR. Tirmidzi No. 3708)
Dari ketiga hadits tersebut, orang yang tidak lulus SD pun pasti akan heran dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin Ahlul Bait akan terusir dari Al-Haudl sedangkan orang yang hanya mencintainya saja sudah dicintai Allah, apalagi Ahlul Bait-nya? Belum lagi jika melihat hadits-hadits berikut:
Dari Ummu Salamah: Nabi Saww menyelimuti Hasan, Husain, Ali, dan Fatimah dengan kain (kisa), kemudian beliau berdo'a: "Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku, dan orang-orang special/istimewa-ku (khashshati), maka hilangkanlah dosa mereka dan sucikanlah mereka dengan sesuci-sucinya." Maka Ummu Salamah bertanya: "Apakah saya termasuk bersama mereka (ana ma'ahum), wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya dirimu menuju pada (ila) kebaikan." (HR. Tirmidzi No. 3806)
(Lihat juga Tirmidzi No. 3129, 3719; Ahmad No. 25300, 25383, dan 25339)
Dari Aisyah: "Pada suatu pagi Rasulullah Saww keluar dari rumahnya dengan mengenakan kain bulu hitam yang berhias. Tak lama kemudian datang Hasan bin Ali, lalu Rasulullah Saww menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian datang Husain dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Setelah itu datanglah Fatimah dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Akhirnya datanglah Ali dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Lalu beliau membaca ayat Al-Qur'an yang berbunyi: 'Innamaa yuriidullahu liyudzhiba 'ankumurrijsa ahlal baiti wa yuthahhirakum tathhiiran' (Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya [Al­-Ahzab ayat 33])." (HR. Muslim No. 4450)
Dari Anas bin Malik: "Rasulullah Saww melewati depan pintu rumah Fatimah selama enam bulan saat hendak melaksanakan shalat Fajar (Shubuh). Beliau berkata: "Shalat wahai Ahlul Bait, sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya." (Al­-Ahzab ayat 33) (HR. Tirmidzi No. 3130)
(Lihat juga Musnad Ahmad No. 13231 dan 13529 [2])
Adalah tidak masuk akal jika orang-orang yang hendak dihilangkan dosa-dosanya dan disucikan sesuci-sucinya oleh Allah malah terusir dari sorga Al-Haudl. Apakah sorga itu diperuntukkan bagi orang-orang murtad, durhaka, dan fasik, sementara orang-orang suci dan shaleh akan menjadi penghuni neraka? Jika demikian, sungguh beruntung mereka yang menjadi perampok, pembunuh, pemabuk, pemerkosa, pelacur, penjudi, koruptor, dll., karena mereka akan menjadi penghuni Al-Haudl.

Saya kira ustadz penulis blog itu bukannya tidak tahu dengan hadits-hadits yang saya sebutkan di atas, tapi karena kebencian terhadap Syiah-lah yang membuatnya kehilangan akal sehat sehingga berani memfitnah Ahlul Bait dan berusaha meyakinkan pembaca bahwa Ahlul Bait akan terusir dari Al-Haudl, dengan harapan pembaca akan berkesimpulan: jika Ahlul Bait saja akan terusir dari Al-Haudl, apalagi para pengikutnya (Syiah). Na'udzubillah tsumma na'udzubillah...
Siapakah Yang Terusir Dari Al-Haudl?
Bagi orang-orang yang berpikiran waras pasti bisa mengetahui siapa yang akan terusir dari Al-Haudl itu dengan hanya membaca hadits-hadits berikut:
Nabi Saww bersabda: "Beberapa orang sahabat mendatangi telaga (haudl), lalu mereka dijauhkan/diusir dari Al-Haudl tersebut, maka aku berkata: 'Ya Tuhanku, mereka adalah para sahabatku (ashabi)'. Allah menjawab: 'Sungguh engkau tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang mereka lakukan sepeninggalmu, mereka berbalik ke belakang dengan melakukan murtad, bid'ah dan dosa besar." (HR. Bukhari No. 6098)
(Lihat juga Bukhari No. 6527; Ahmad No. 3966, 13480, 22247, 23754)
Nabi Saww bersabda: "Sepeninggalku nanti akan kalian jumpai sikap-sikap utsrah (individualis dan egois), maka dari itu bersabarlah kalian hingga berjumpa denganku di (sorga) Al-Haudl." (HR. Bukhari No. 3508)
(Lihat juga Bukhari No. 3509, 3510, 6533, 2203; Muslim No. 3432; Tirmidzi No. 2115; Nasa'i No. 5288; Ahmad No. 11642, 12245, 12288, 12419, 18305, 18307)
Nabi Saww bersabda: "Akulah yang pertama-tama mendatangi telaga (Al-Haudl). Barangsiapa yang menuju kepadaku akan minum, dan barangsiapa yang meminumnya maka tidak akan haus selama-lamanya. Sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku dan aku mengenalnya dan mereka juga mengenaliku, kemudian antara aku dan mereka dihalangi." Kata Abu Haazim, Nu'maan bin Abi 'Ayyaasy mendengarku, maka ia berkomentar, 'Beginikah kamu mendengar dari Sahl?'. 'Iya', jawabku. Lalu ia berujar, 'Aku bersaksi atas Abu Sa'id Al-Khudriy, sungguh aku mendengarnya dan ia menambahkan redaksi', "Lalu aku (Nabi Saww) berkata: 'Mereka adalah golonganku (innahum minni)'. Namun dijawab, 'Sungguh engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!' Maka aku berkata: 'Menjauh, menjauh, bagi orang yang mengubah (agama) sepeninggalku." (HR. Bukhari No. 6097)
(Lihat juga Bukhari No. 6528; Muslim No. 4243; Ahmad No. 21756, 21803)
Dari hadits-hadits di atas, jelas terlihat bahwa yang dijauhkan/terusir dari Al-Haudl itu adalah para shahabat (ashab) yang selepas Nabi Saww wafat berubah menjadi murtad, melakukan bid'ah, berbuat fasik (dosa besar), bersikap utsrah (individualis dan egois), bahkan mengubah ajaran agama Islam. Hal ini dipertegas lagi dalam hadits Bukhari No. 3100 berikut:
Nabi Saww bersabda: "Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari kiamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya [QS. Al-Anbiya’ ayat 104]). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari kiamat adalah Nabi Ibrahim As dan ada segolongan orang dari sahabat-sahabatku (ashabi) yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: itu sahabat-sahabatku, itu sahabat-sahabatku (Ashabi, ashabi). Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggalmu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku... hingga firman-Nya: Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana [QS Al-Maidah ayat 117 - 118])."
(Lihat juga Bukhari No. 3191, 4259, 4371, 6045; Muslim No. 5104; Tirmidzi No. 3091; Ahmad No. 1992, 2168)
Jadi jelas sekali, yang dimaksud dengan "innahum minni" (mereka adalah golonganku) dalam hadits Bukhari No. 6097 di atas bukanlah Ahlul Bait melainkan para shahabat (ashab) Nabi Saww yang kembali murtad, fasik, dan utsrah selepas beliau wafat. Lalu bagaimana sikap kita terhadap para shahabat tersebut? Cukuplah bagi kita untuk mengikuti petunjuk Nabi Saww ketika membacakan surat Al-Maidah ayat 117-118, sebagaimana termuat dalam hadits Bukhari No. 3100 di atas:
وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ. إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.[117] Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[118]" (Al-Maidah ayat 117-118)
Wallahu a'lam .....
Layak Baca:
Meluruskan Kesalahfahaman Terhadap Syiah:
  1. Syiah = NU + Imamah, Tradisi Syiah di Indonesia
  2. Taqiyah, Abdullah bin Saba, Saqifah, Khilafah, 'Umar, Abu Bakar
  3. Utsman, Mu'awiyah, 'Aisyah, Thulaqa, Fitnatulkubro, Ahlul Bait
  4. Nikah Mut'ah, Abu Hurairah, Hadits-hadits Janggal, Shalat Jama'
  5. 12 Imam, Talfiq, Al-Qur'an Syiah, Kitab Al-Kafi, Strategi Zionis
  6. Jangan Su'udhan, Pembela Syiah Belum Tentu Syiah
[1] Sepuluh keutamaan Ali yang tidak dimiliki shahabat lain (lihat Musnad Ahmad No. 2903): (1) Seorang lelaki yang tidak akan Allah hinakan selamanya; (2) Pemegang panji Perang Khaibar; (3) Penyampai surat At-Taubah; (4) Pembela Nabi Saww di dunia dan akhirat; (5) Orang yang pertama masuk Islam setelah Khadijah; (6) Salah seorang yang dihilangkan dosanya dan disucikan sesuci-sucinya, selain Fatimah, Hasan dan Husain; (7) Orang yang mengorbankan nyawanya dengan memakai baju Nabi Saww dan tidur di tempat beliau ketika musyrikin Quraisy melempari tempat itu; (8) Kedudukannya dengan Nabi Saww seperti kedudukan Harun dengan Musa; (9) Wali atas setiap mu'min sepeninggal Nabi Saww. Sabda Nabi Saww: "Barang siapa yang aku adalah walinya maka Ali juga menjadi walinya"; (10) Nabi Saww menutup semua pintu Mesjid bagi orang junub, kecuali pintu Ali, sehingga Ali bisa memasuki Mesjid meskipun dalam keadaan junub.
Dari Ummu Salamah: Rasulullah Saww bersabda, "Orang munafik tidak akan pernah mencintai Ali, sedangkan orang mu'min tidak akan pernah membencinya." (HR. Tirmidzi No. 3651 dan Ahmad No. 25299)
Lihat juga Muslim No. 113; Tirmidzi No. 3669; Nasa'i 4932, 4936; Ahmad No. 693, 1010.
[2] Hadits yang berkaitan dengan Ahlul Bait yang akan disucikan Allah sesuai surat Al-Ahzab ayat 33 terdapat juga dalam Musnad Ahmad No. 2903 dan 16374.
  • Artikel Terkait Dengan Agama

    Terimakasih sudah membaca artikel SC Community's Blog

    Sekedar catatan:
    Kotak pada kolom blok komentar ini masih kosong. Maka merupakan suatu kehormatan jika sobat menjadi orang yang paling pertama menuliskan komentar, baik berupa pujian, masukan, kritikan, maupun pertanyaan di kolom komentar yang terletak di bawah kotak ini.

    Tak ada yang bisa saya berikan selain ucapan terima kasih karena telah memberikan apresiasi terhadap artikel-artikel SC Community's Blog
    Kang eNeS

    Tambahkan Komentar

    • Dimohon untuk tidak mencantumkan link aktif pada komentar sobat.
    • Gunakan Ruang Tanya pada TabView Menu, jika ingin menanyakan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan artikel di atas.
    Kang eNeS

    Terimakasih atas semua apresiasi yang sobat berikan.

    10 Artikel Terbaru

    10 Artikel Terpopuler